INFOPAJAJARAN.COM - Gunung Semeru, salah satu gunung berapi paling aktif di Indonesia, kembali menjadi sorotan setelah peningkatan aktivitas vulkaniknya. Peningkatan status ini memicu perhatian khusus dari berbagai pihak, terutama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), mengingat potensi dampak yang bisa ditimbulkan terhadap masyarakat sekitar. Artikel ini akan mengulas lebih lanjut mengenai lokasi geografis Gunung Semeru, sejarah letusan, serta karakteristik unik yang dimilikinya.
Lokasi Geografis dan Asal-Usul Nama Gunung Semeru
Gunung Semeru terletak di Provinsi Jawa Timur, tepatnya di perbatasan antara Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang. Lokasi strategis ini menjadikannya sebagai salah satu ikon alam yang penting bagi Jawa Timur. Nama Semeru sendiri memiliki akar yang dalam dalam budaya dan sejarah Indonesia.
Sebutan Mahameru, yang sering dikaitkan dengan Gunung Semeru, berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti 'meru agung'. Istilah ini mencerminkan pandangan kuno yang menganggap gunung sebagai pusat jagat raya, dengan 'meru' berarti pusat dan 'agung' berarti besar. Selain Mahameru, gunung ini juga dikenal dengan nama lain seperti Semeroe, Smeru, dan Smiru, yang tercatat dalam peta-peta kuno.
Sejarah Panjang Letusan Gunung Semeru
Sejarah letusan Gunung Semeru tercatat sejak tahun 1818, meskipun dokumentasi pada periode awal tersebut terbilang minim. Catatan yang lebih rinci baru muncul pada tahun 1941-1942, ketika terjadi aktivitas vulkanik yang berlangsung dalam durasi yang cukup panjang. Pada periode tersebut, leleran lava mencapai lereng timur dengan ketinggian antara 1.400 hingga 1.775 meter, bahkan menimbun pos pengairan Bantengan.
Setelah periode tersebut, serangkaian aktivitas vulkanik terus berlanjut pada tahun-tahun berikutnya, seperti 1945, 1946, 1947, dan seterusnya hingga tahun 1960. Gunung Semeru terus menunjukkan aktivitasnya sebagai salah satu gunung api aktif di Indonesia. Pada tahun 1977, guguran lava menghasilkan awan panas dengan jarak mencapai 10 km di Besuk Kembar, mengakibatkan kerusakan signifikan pada sawah, jembatan, dan rumah warga.
Aktivitas vulkanik Gunung Semeru terus berlanjut hingga akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat aktivitas vulkanik pada tahun 1990, 1992, 1994, 2002, 2004, 2005, 2007, dan 2008. Pada tahun 2008, terjadi beberapa erupsi yang teramati pada bulan Mei, dengan guguran awan panas mengarah ke wilayah Besuk Kobokan.
Karakteristik Letusan dan Tipe Erupsi Gunung Semeru
Gunung Semeru memiliki karakteristik letusan yang khas, yaitu bertipe vulkanian dan strombolian. Letusan dengan tipe vulkanian ditandai dengan ledakan eksplosif yang dapat menghancurkan kubah dan lidah lava yang telah terbentuk sebelumnya. Proses ini menghasilkan awan panas dan material vulkanik yang dapat membahayakan wilayah sekitarnya.
Sementara itu, letusan dengan tipe strombolian cenderung lebih ringan, ditandai dengan pembentukan kawah dan lidah lava baru. Letusan strombolian biasanya terjadi 3-4 kali setiap jam, menunjukkan aktivitas vulkanik yang cukup sering. Kombinasi kedua tipe letusan ini menjadikan Gunung Semeru sebagai gunung api yang dinamis dan terus berubah.
Dengan status aktivitas vulkanik yang kini berada pada level Awas, penting bagi masyarakat dan pihak terkait untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan. Pemantauan intensif oleh PVMBG dan koordinasi yang baik antara berbagai instansi terkait menjadi kunci dalam mitigasi risiko bencana yang mungkin terjadi. Keselamatan masyarakat yang tinggal di sekitar Gunung Semeru harus menjadi prioritas utama dalam setiap tindakan penanggulangan bencana.
"