Banjir Kali Bekasi Rendam 80 Rumah, Wali Kota Soroti Penanganan Jangka Panjang

INFOPAJAJARAN.COM - Genangan air masih menyisakan kesuraman di sejumlah permukiman Kota Bekasi hingga akhir Januari 2026. Berdasarkan sumber berita dari bekasi.pojoksatu.id, bencana banjir kembali merendam kawasan sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Kali Bekasi, dengan titik terdampak terparah di Gang Mawar, Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur. 

Sekitar 80 rumah terendam luapan air yang didominasi kiriman dari wilayah hulu, memaksa sejumlah warga mengungsi dan menghadapi ketidakpastian.

Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, turun langsung meninjau lokasi untuk memastikan penanganan darurat dan mendengar keluhan warga. Dalam pemaparannya, Tri menyebut pemicu utama adalah pertemuan dua aliran sungai di hulu. 

“Kalau ketinggian air di titik pertemuan Kali Cileungsi dan Cikeas atau P2C sudah menyentuh angka 500 cm, itu sudah pasti air akan naik. Bahkan top level yang pernah kita alami bisa mencapai 750 sampai 850 cm,” jelasnya. 

Tingginya muka air ini kemudian meluap dan merendam rumah-rumah di bantaran dengan ketinggian bervariasi.

Di tengah upaya pemompaan dan antisipasi, kekhawatiran terbesar ditujukan kepada kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak. 

Meski jumlah rumah terdampak saat ini dilaporkan sekitar 80 unit, Tri Adhianto mengingatkan bahwa potensi banjir susulan masih sangat tinggi jika hujan kembali mengguyur wilayah hulu. 

“Wilayah sepanjang DAS memang menjadi titik paling rentan, sehingga butuh penanganan jangka panjang,” tegasnya, menggarisbawahi kerentanan kawasan tersebut yang bersifat sistemik.

Akar Masalah dan Komitmen Pembongkaran Bangunan Liar

Lebih jauh, Wali Kota mengungkap satu faktor krusial yang memperparah situasi: keberadaan bangunan di sempadan sungai. 

Struktur bangunan ini menyempitkan aliran dan mengurangi daya tampung sungai saat debit air meningkat drastis. Menurut Tri, telah ada kesepakatan dengan warga untuk melakukan pembongkaran secara mandiri. 

Langkah ini menjadi prasyarat agar intervensi struktural dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) dapat segera dilakukan.

“BBWS baru bisa masuk melakukan pembangunan kalau lahannya sudah clean and clear,” papar Tri Adhianto, menekankan pentingnya ruang bebas bagi upaya normalisasi sungai. 

Pernyataan ini menyiratkan kompleksitas penanganan banjir di Kota Bekasi, yang tidak hanya bergantung pada respons darurat, tetapi juga pada penyelesaian masalah tata ruang dan kepatuhan terhadap regulasi sempadan sungai. 

Komitmen bersama antara pemerintah dan komunitas warga di bantaran menjadi kunci.

Upaya Darurat dan Harapan di Tengah Genangan

Sembari menunggu langkah jangka panjang, Pemerintah Kota Bekasi terus mengerahkan upaya darurat. 

Ratusan pompa air dioperasikan untuk mempercepat surutnya genangan. “Saat ini kita operasikan empat unit pompa ditambah satu dari BBWS, dengan total kapasitas sekitar 18.000 meter kubik per detik,” ungkap Tri Adhianto. Upaya teknis ini diharapkan dapat meredam dampak dan mempercepat pemulihan.

Meski air mulai berangsur surut, pada Jumat, 30 Januari 2026, sejumlah warga masih harus bertahan di pos pengungsian atau rumah kerabat. Pemerintah daerah memastikan distribusi bantuan logistik dan layanan dasar tetap berjalan untuk menjamin kebutuhan pokok para pengungsi. 

Harapan terbesar kini tertumpu pada perbaikan kondisi cuaca, agar hujan di hulu tidak lagi memperparah genangan dan warga dapat segera kembali ke rumah masing-masing untuk memulai proses pemulihan.

Insiden banjir ini kembali menegaskan bahwa Kota Bekasi, dengan topografi dan tekanan urbanisasinya, masih berhadapan dengan tantangan hidrologis yang serius. 

Sinergi antara penanganan darurat, normalisasi sungai, dan penertiban bangunan di kawasan rawan banjir menjadi pekerjaan rumah multi-dimensional yang menentukan ketahanan ibu kota provinsi Jawa Barat ini di masa depan.*