Sinergi Strategis untuk Masa Depan Pariwisata Jawa Barat
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Provinsi Jawa Barat telah menjalin kolaborasi strategis dengan Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat.
Langkah penting ini diambil untuk memperkaya kualitas dan akurasi data pariwisata di Bumi Pasundan.
Penanda dimulainya sinergi ini adalah audiensi langsung antara Kepala Disparbud Jabar, Iendra Sofyan, dengan Kepala BPS Jabar, Margaretha Ari Anggorowati.
Pertemuan vital tersebut berlangsung pada hari Rabu, 28 Januari 2026.
Tantangan Data Pariwisata yang Mendesak
Iendra Sofyan dalam kesempatan itu mengungkapkan bahwa proses pengumpulan data pariwisata selama ini masih dihadapkan pada berbagai tantangan.
Padahal, ketersediaan data yang valid dan akurat adalah fondasi utama dalam perumusan sekaligus evaluasi kebijakan pembangunan pariwisata.
Ia menyoroti bahwa Jawa Barat merupakan provinsi yang kaya, memiliki sedikitnya 1.741 daya tarik wisata.
Ribuan destinasi ini tersebar dalam kategori wisata alam, wisata buatan, dan wisata budaya.
Meskipun demikian, pengelolaan dan pencatatan data kunjungan wisatawan masih menghadapi hambatan signifikan.
Kendala utama terletak pada konsistensi pelaporan dan tingkat responsif pengelola destinasi.
Situasi ini kian terasa sulit saat periode libur besar seperti Lebaran atau Natal-Tahun Baru.
Komitmen BPS Jabar: Data Komprehensif Berdampak Nyata
Menanggapi pemaparan tersebut, Kepala BPS Jabar, Margaretha Ari Anggorowati, menegaskan kesiapan pihaknya untuk berkolaborasi penuh.
BPS Jabar berkomitmen menghasilkan data statistik pariwisata yang tidak hanya kuat dan komprehensif, tetapi juga mampu merefleksikan kondisi riil di lapangan.
Ia menjelaskan bahwa data pariwisata memegang peranan strategis dalam proses penyusunan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).
Penyusunan PDRB memerlukan dukungan data yang solid dari dua sisi krusial: penawaran (supply) dan permintaan (demand).
Secara lebih detail, data sisi penawaran pariwisata mencakup informasi dari industri pendukung seperti hotel, restoran, dan berbagai daya tarik wisata itu sendiri.
Di sisi lain, data permintaan (demand) meliputi jumlah wisatawan nusantara, wisatawan mancanegara, hingga wisatawan nasional.
Lebih jauh dari sekadar deretan angka, BPS menekankan urgensi untuk menyajikan data yang bermakna dan berdaya dampak.
Data seperti ini harus mampu memberikan gambaran yang utuh dan komprehensif.
Selain itu, data tersebut diharapkan dapat "bercerita" mengenai fenomena yang sedang terjadi di sektor pariwisata.
Pada akhirnya, data yang bermakna ini akan menjadi landasan utama dalam perumusan kebijakan yang efektif.
Mewujudkan "Satu Data Pariwisata Jawa Barat"
BPS turut memberikan dukungan penuh terhadap inisiatif implementasi konsep "Satu Data Pariwisata Jawa Barat".
Konsep ini dirancang untuk mewujudkan integrasi data antar-instansi terkait.
Selain itu, "Satu Data" menekankan pentingnya keseragaman definisi dan metodologi dalam pengumpulan data.
Tujuannya adalah peningkatan kualitas data dan pemanfaatan informasi secara bersama serta berkelanjutan.
Harapan Kolaborasi: Fondasi Kebijakan dan Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan
Melalui pertemuan produktif ini, BPS dan Disparbud Jabar bersepakat untuk terus memperkuat sinergi mereka.
Komitmen bersama ini bertujuan untuk mewujudkan data pariwisata yang akurat, terpercaya, dan memberikan manfaat maksimal.
Diharapkan, kolaborasi strategis ini akan menjadi pilar utama dalam mendukung perumusan kebijakan pembangunan yang tepat sasaran.
Pada akhirnya, upaya ini akan turut serta mendorong pertumbuhan ekonomi Jawa Barat secara berkelanjutan melalui sektor pariwisata.