INFOPAJAJARAN.COM - Ungkapan “someah hade ka semah†sudah mengakar kuat sebagai identitas tak terpisahkan dari masyarakat Sunda.
Frasa ini melampaui makna sekadar pepatah, menjelma menjadi pedoman etika yang terus hidup dan diterapkan dalam keseharian warga Jawa Barat.
Keramahan tulus kepada tamu, keterbukaan pada pendatang, serta pemilihan tutur kata yang santun, semuanya merupakan cerminan dari nilai luhur yang diwariskan secara turun-temurun.
Akar Filosofi "Someah Hade ka Semah" dalam Budaya Sunda
Dalam praktik sehari-hari, esensi sikap "someah" termanifestasi dalam berbagai tindakan sederhana.
Mulai dari senyuman hangat saat bertemu orang baru, penggunaan bahasa yang halus dan menenangkan, hingga prioritas untuk mendahulukan tamu di atas kepentingan pribadi, semua menjadi indikatornya.
Filosofi ini berkembang subur dari akar budaya agraris masyarakat Sunda yang sejak dahulu kala terbiasa hidup harmonis dan saling mengandalkan.
Bagi warga Sunda, kehadiran tamu memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar kunjungan sesaat.
Mereka adalah bagian integral dari jalinan hubungan sosial yang wajib dijaga dengan penghormatan setinggi-tingginya.
Keramahan bukan hanya sekadar tata krama, melainkan juga sebuah upaya luhur untuk memelihara keharmonisan.
Oleh karena itu, tidak mengherankan jika sikap "someah" seringkali menjadi pengalaman pertama yang sangat berkesan bagi para pendatang ketika menjejakkan kaki di tanah Jawa Barat.
Refleksi Nilai "Someah" dalam Kehidupan Modern: Perspektif Intan
Intan, seorang perempuan Sunda yang memiliki pengalaman luas berinteraksi dengan beragam latar belakang budaya, mengungkapkan betapa nilai "someah hade ka semah" sangat berperan membantu kehidupan sosialnya.
"Sejak kecil, saya sudah dididik untuk selalu ramah kepada siapa pun," jelasnya.
"Ini bukan basa-basi, melainkan sudah menjadi kebiasaan yang melekat," tambahnya.
Menurut Intan, sikap ini memudahkannya dalam beradaptasi, bahkan ketika berada di lingkungan yang sepenuhnya baru.
"Orang cenderung menjadi lebih terbuka dan menerima jika kita mendekati mereka dengan sikap yang baik," ujarnya.
Nilai "someah" juga menampakkan cerminan kuat dalam lingkungan pesantren.
Intan menjelaskan bahwa kebiasaan menyambut tamu dan menjaga tutur kata yang santun merupakan elemen penting dari pendidikan karakter di sana.
"Di pesantren, kami diajarkan untuk menghormati setiap individu, baik itu tamu, teman sebaya, maupun mereka yang lebih tua," tuturnya.
"Someah Hade ka Semah" di Era Digital dan Individualisme
Di tengah deru perubahan zaman dan arus digital yang seringkali mendorong interaksi serba cepat, nilai "someah hade ka semah" tetap mempertahankan relevansinya.
Meskipun wujud penerapannya mungkin beradaptasi dengan konteks kekinian, esensinya tetap tak berubah.
Yakni, untuk senantiasa menjaga perasaan orang lain dan membangun sebuah ruang interaksi yang terasa aman serta nyaman bagi semua.
Sikap ini berfungsi sebagai penyeimbang yang krusial di tengah tren budaya individualistik yang kian menguat.
Keramahan dan kesantunan dipandang sebagai cara yang sederhana namun ampuh untuk mempertahankan hubungan sosial agar tetap hangat dan bernuansa manusiawi.
Bahkan dalam ranah digital, sebagian masyarakat Sunda tetap berupaya menginternalisasi nilai ini.
Mereka melakukannya dengan cermat memilih kata-kata yang lebih hati-hati dan bijaksana saat menyampaikan pendapat.
Bagi Intan, memahami "someah hade ka semah" tidaklah berarti harus selalu mengalah.
"Ramah itu bukan indikator kelemahan," tegasnya.
"Kita tetap dapat memegang teguh pendirian, namun dengan cara penyampaian yang tetap terjaga kesantunannya," tambahnya.
Ia berpendapat bahwa nilai ini justru menumbuhkan kedewasaan dalam setiap tindakan dan ucapan.