Reza Pahlavi: Menguak Ambisi Sang Putra Mahkota Dalam Mengubah Takdir Iran

INFOPAJAJARAN.COM - Reza Pahlavi, sosok mantan putra mahkota Iran yang kini hidup dalam pengasingan, secara aktif tengah memposisikan dirinya sebagai pemimpin "transisi" yang potensial jika Republik Islam Iran pada akhirnya tumbang.

Dalam gambaran yang lebih luas, Pahlavi telah menyatakan kepercayaannya terhadap Presiden Trump dan sebelumnya juga bertemu dengan para pejabat administrasi AS untuk membahas gejolak di dalam Iran.

Hubungan-hubungan semacam ini berpotensi besar untuk memperkuat posisinya, terutama setelah serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran yang terjadi pada hari Sabtu.

"Bantuan yang telah dijanjikan oleh Presiden Amerika Serikat kepada rakyat Iran yang pemberani kini telah tiba," demikian pernyataan Pahlavi melalui sebuah unggahan video.

Ia melanjutkan, "Ini adalah intervensi kemanusiaan, dan sasarannya adalah Republik Islam beserta seluruh perangkat represinya dan mesin pembunuhnya—bukan negara maupun bangsa Iran yang agung."

Perkembangan terkini menunjukkan bahwa Amerika Serikat dan Israel memulai "operasi tempur besar-besaran" di Iran pada malam hari.

Tujuan utama dari operasi ini adalah untuk menghancurkan kapasitas militer negara tersebut sekaligus mendorong perubahan rezim.

Presiden Trump sendiri mendorong warga Iran untuk tetap berada di dalam rumah selama pemboman berlangsung.

Ia menambahkan, "Setelah kami selesai, ambillah alih pemerintahan Anda, itu akan menjadi milik Anda untuk diambil.

Ini mungkin satu-satunya kesempatan Anda dalam beberapa generasi ke depan."

Serangan-serangan ini dilancarkan setelah pembicaraan diplomatik antara Washington dan Teheran mengenai kemampuan nuklir Iran menemui kegagalan total.

Pahlavi juga menyerukan kepada Trump untuk "melakukan kehati-hatian maksimal guna menjaga nyawa warga sipil dan rekan-rekan sebangsaku."

Ia menekankan bahwa "Rakyat Iran adalah sekutu alami Anda dan sekutu dunia bebas, dan mereka tidak akan melupakan bantuan Anda selama periode paling sulit dalam sejarah kontemporer Iran."

Berikut adalah beberapa fakta penting mengenai sosok pemimpin oposisi Iran ini.

Latar Belakang Sang Putra Mahkota: Dari Tahta ke Pengasingan

Lahir di Teheran pada tahun 1960, Reza Pahlavi terpaksa masuk ke kehidupan publik di usia 7 tahun.

Hal ini terjadi saat ia secara resmi dinobatkan sebagai putra mahkota dalam upacara penobatan ayahnya.

Pada usia 17 tahun, ia telah menjadi pilot termuda Iran, meskipun tak lama kemudian ia bertolak ke Amerika Serikat untuk menjalani pelatihan sebagai pilot jet tempur.

Sejak keberangkatannya itu, ia tak pernah kembali lagi ke tanah air.

Revolusi Islam pada tahun 1979 menggulingkan monarki dan menumbangkan pemerintahan ayahnya saat Pahlavi masih berada di luar negeri.

Peristiwa ini secara efektif melarangnya untuk kembali pulang ke Iran.

Sejak saat itu, ia telah hidup dalam pengasingan di Amerika Serikat bersama istri, Yasmine Etemad-Amini, dan ketiga anak mereka.

Membangun Platform Oposisi Demokratis

Pahlavi telah membangun landasan politiknya seputar tujuan untuk menggantikan Republik Islam dengan sistem yang sekuler dan demokratis.

Ia juga telah menganjurkan pemisahan antara agama dan negara serta penerapan pemilihan umum yang bebas dan adil.

Meskipun sebagian warga Iran khawatir bahwa Pahlavi ingin mengembalikan pemerintahan otoriter seperti era ayahnya, ia menyatakan tidak akan secara otomatis mencari pemulihan monarki konstitusional.

"Apapun keputusan mayoritas rakyat Iran, perwakilan mereka dalam majelis konstituante akan diberi tanggung jawab untuk merancang konstitusi sistem berikutnya ini," jelas Pahlavi dalam konferensi pers Januari lalu.

Dukungan dan Tantangan di Kalangan Rakyat Iran

Namun demikian, opini publik di Iran masih sangat terpecah belah mengenai Reza Pahlavi.

Hal ini menimbulkan pertanyaan besar tentang seberapa besar legitimasi yang akan ia dapatkan di dalam negeri.

Dalam jajak pendapat publik yang dilakukan selama beberapa tahun terakhir, termasuk yang terbaru pada November 2025, sekitar sepertiga warga Iran mendukung Pahlavi.

Di sisi lain, sepertiga lainnya menentangnya dengan keras, demikian menurut jajak pendapat dari peneliti Belanda, Ammar Maleki.

Meskipun demikian, popularitas Pahlavi dilaporkan melebihi tokoh oposisi Iran lainnya.

Menghadapi Keruntuhan Rezim: Strategi yang Berubah

Gelombang protes terbaru di Iran, yang dimulai pada akhir Desember, dipicu oleh anjloknya nilai mata uang nasional dan sanksi internasional yang menyebabkan ketidakstabilan ekonomi.

Diperkirakan antara 7.000 hingga 30.000 demonstran Iran telah tewas, meskipun perkiraan pasti masih belum jelas.

Meskipun Presiden Trump pada bulan Januari berulang kali mengancam akan melakukan intervensi jika Iran membunuh demonstran, ia menunda keputusannya.

Ini terjadi karena para ajudan dan sekutu seperti Israel menyatakan keraguan bahwa serangan udara AS benar-benar akan menantang stabilitas rezim.

Pahlavi sebelumnya meminta Amerika Serikat untuk melancarkan serangan terhadap "arsitektur represi" rezim.

Target-target ini termasuk fasilitas yang terkait dengan komando dan kontrol Garda Revolusi.

Ia menyampaikan kepada Fox News pada hari Rabu bahwa ia percaya rezim tersebut berada di titik balik yang kritis.

Pahlavi mengakui bahwa sanksi ekonomi dan perjuangan geopolitik telah membuat pemerintah berada di "ujung tanduknya."

Meskipun Pahlavi telah mengadvokasi perubahan tanpa kekerasan selama lebih dari 40 tahun, ia baru-baru ini mengubah nadanya.

Ia kini menyerukan agar warga Iran mengambil sikap yang lebih agresif untuk melawan rezim.

Pada bulan Januari, Pahlavi mendorong para demonstran untuk terus turun ke jalan dan "mengklaim ruang publik" sebagai milik mereka sendiri.

Visi Masa Depan: Rencana Pahlavi Pasca-Rezim

Pahlavi pada hari Jumat merilis versi terbaru dari "Buku Pegangan Fase Darurat" dari Proyek Kemakmuran Iran miliknya.

Ia menyebut proyek ini sebagai komponen penting dari strateginya untuk merebut kembali dan membangun kembali bangsa.

Buku pegangan tersebut berfokus pada kebutuhan mendesak Iran dalam enam bulan pertama setelah keruntuhan rezim.

Ini adalah sinyal yang lebih kuat bahwa Pahlavi siap untuk turun tangan jika situasi tersebut muncul.