INFOPAJAJARAN.COM - PT Bandarudara Internasional Jawa Barat (BIJB) dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat kini sedang mempercepat langkah strategis.
Mereka berkolaborasi dalam transformasi Bandara Kertajati.
Visi utama adalah menjadikan bandara ini sebagai pusat ekonomi baru yang vital.
Upaya ini didorong oleh pengembangan masif Aerospace Park.
Penguatan konektivitas udara juga menjadi pilar krusial dari inisiatif ini.
Strategi komprehensif ini merupakan respons langsung.
Tujuannya adalah mengatasi tantangan berupa rendahnya load factor penerbangan.
Selain itu, beban finansial yang signifikan bagi perusahaan juga menjadi perhatian utama.
Rencana Pemulihan Bisnis dan Pilar Utama Transformasi
Rencana pemulihan bisnis telah disusun dengan target tahun 2026.
Fokusnya terbagi menjadi tiga pilar utama yang saling mendukung.
Pilar pertama adalah optimalisasi layanan penerbangan.
Ini mencakup penerbangan Haji dan Umrah.
Juga termasuk penerbangan reguler yang akan terus ditingkatkan.
Pilar kedua berfokus pada penyelesaian kewajiban utang perusahaan.
Skema restrukturisasi utang akan ditempuh.
Konversi saham juga menjadi salah satu opsi untuk mengurangi beban finansial.
Pilar ketiga yaitu pengembangan ambisius kawasan Aerospace Park.
Kawasan ini diharapkan menjadi daya tarik ekonomi baru.
Sementara itu, Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (BP2D) Jawa Barat turut berkontribusi.
Mereka menyusun naskah kebijakan atau policy brief yang krusial.
Kebijakan ini bertujuan untuk meningkatkan jumlah penumpang secara berkelanjutan.
Sinergi Lintas Sektor untuk Kemajuan Kertajati
Program transformasi ini melibatkan sinergi kuat dari berbagai pihak.
PT BIJB (Perseroda) menjadi motor utama penggerak.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat memberikan dukungan penuh.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) juga ikut serta dalam kolaborasi ini.
Dukungan kebijakan strategis datang dari kementerian terkait.
Kementerian Perhubungan memainkan peran penting.
Begitu pula dengan Kementerian Agama, terutama untuk penerbangan ibadah.
Integrasi Kawasan dan Target Implementasi 2026
Pengembangan ini terpusat di kawasan Bandara Internasional Kertajati.
Lokasinya berada di Majalengka, Jawa Barat.
Bandara ini akan terintegrasi dalam kawasan Rebana Metropolitan yang ambisius.
Integrasi ini mencakup akses strategis ke Pelabuhan Patimban yang baru.
Akses ke Pelabuhan Cirebon juga akan diperkuat.
Koneksi vital akan tersedia melalui Jalan Tol Cisumdawu.
Jalan Tol Cipali juga menjadi jalur penghubung penting.
Agenda Khusus di Tahun 2026
Target implementasi utama telah ditetapkan secara spesifik pada tahun 2026.
6 Februari 2026: Penerbangan Umrah reguler diharapkan dapat dimulai kembali.
Maret 2026: Rencananya akan ada penambahan rute domestik baru.
Oktober 2026: Target transaksi pertama untuk bisnis MRO (Maintenance, Repair, and Overhaul) akan direalisasikan.
Tantangan dan Diversifikasi Bisnis Kertajati
Bandara Kertajati saat ini menghadapi kondisi yang disebut sebagai "demand ecosystem mismatch".
Data menunjukkan bahwa pendapatan usaha belum optimal.
Pendapatan tersebut belum mampu menutupi biaya operasional yang terus berjalan.
Total liabilitas jangka pendek perusahaan mencapai Rp 474 miliar.
Angka ini tercatat per Desember 2025.
Sementara itu, liabilitas jangka panjangnya mencapai Rp 1,5 triliun pada periode yang sama.
Situasi ini diperparah dengan penurunan drastis populasi pesawat.
Penurunan tersebut terjadi pasca-pandemi COVID-19 di Indonesia.
Oleh karena itu, diversifikasi bisnis menjadi sangat mendesak.
Pengembangan industri MRO dan logistik menjadi kunci utama.
Langkah ini penting agar bandara dapat bertahan dan berkembang.
Pemerintah dan PT BIJB akan menempuh beberapa langkah strategis yang lebih lanjut.