INFOPAJAJARAN.COM - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menandai usia 55 tahun pada Sabtu, 11 April 2026, dengan cara yang sangat berbeda dari perayaan lazimnya.
Alih-alih lilin dan pesta, momen istimewa di Lembur Pakuan ini diwarnai dengan penyalaan 55 obor.
Obor-obor tersebut dimaknai sebagai simbol cahaya kehidupan yang menerangi jalan pengabdiannya.
Dalam suasana syahdu, pria yang akrab disapa Kang Dedi Mulyadi (KDM) ini tak melewatkan kesempatan untuk memaparkan rencana masa depannya.
Ia merenungi perjalanan usianya dengan mengambil teladan dari sosok ibu.
Menurut pandangannya, seorang ibu adalah panutan ideal bagi seorang pemimpin sejati.
Dedi Mulyadi mengutarakan bahwa pemimpin yang baik harus memiliki jiwa "Sunan Ambu".
Sosok ibu digambarkan selalu mendahulukan kepentingan anak-anaknya.
Bahkan, rela menempatkan diri di posisi terakhir demi kesejahteraan keluarga.
"Saya belajar makna dari laparnya seorang ibu.
Ketika anak-anaknya makan, ia melahirkan generasi yang kokoh raga dan jiwanya," ujar Dedi Mulyadi.
Ia meyakini filosofi ini sangat relevan dengan tugasnya memimpin Jawa Barat.
Bagi KDM, kepala daerah yang mengutamakan kepentingan pribadi akan menghasilkan masyarakat yang hidup dalam kesulitan.
Di tengah guyuran rintik hujan malam itu, Dedi melihat suasana tersebut sebagai pertanda keberkahan ilahi.
Ia kemudian mengulas pentingnya keseimbangan antara sisi maskulin dan feminin dalam diri manusia.
Keseimbangan ini krusial untuk membangun empati dan kasih sayang yang mendalam.
Pandangannya ini terhubung erat dengan pengalaman pribadinya sebagai single parent.
Dedi mengenang bagaimana putra sulungnya, Maula Akbar, harus tumbuh setelah kehilangan sang ibu karena berpulang.
Putri semata wayangnya, Ni Hyang Sukma Ayu, juga ia besarkan dalam keluarga yang telah kehilangan keutuhan.
Di hadapan putri tercintanya, Dedi Mulyadi menyampaikan janji yang begitu menyentuh hati.
Ia memilih untuk tidak menikah lagi.
Keputusan ini demi memastikan Ni Hyang tumbuh dengan perhatian penuh dari ayahnya.
"Ada juga anak perempuan saya yang harus saya besarkan.
Karena keegoan orang tuanya, saya memutuskan untuk menemaninya tanpa harus punya istri lagi sampai dia tumbuh dewasa," ungkapnya dengan nada haru.
Ia mengakui keputusan ini merupakan bentuk tanggung jawab dan sikap ksatria.
Ini adalah pertanggungjawaban atas kegagalan rumah tangga yang pernah dialaminya.
Dedi Mulyadi menyebut perjalanan hidupnya selama 55 tahun tak terlepas dari jejak karma yang terus membentuk dirinya.
Termasuk dua kali pengalaman kehilangan pasangan hidup.
Satu kali karena takdir kematian, dan satu lagi akibat perceraian.
"Saya dua kali ditinggalkan: satu karena kematian dan satu karena perceraian.
Karma ini membuat hidup saya terus tegak untuk membesarkan anak saya dengan cinta tanpa mengulangi kesalahan serupa," tegasnya.
Di penghujung refleksi, Dedi menghaturkan rasa terima kasih mendalam.
Ucapan ini ditujukan kepada para sahabat yang pernah mendampinginya di masa-masa sulit.
Terutama saat dirinya belum berada di posisi yang ia raih saat ini.
Ia juga tak lupa memberikan pesan penuh cinta kepada Ni Hyang Sukma Ayu.
Sang putri disebut sebagai cahaya dan permata yang menerangi hidupnya.
"Terima kasih untuk Sukma Ayu, anakku sayang.
Engkau telah menjadi permata yang mewujudkan pikiran ayah dalam gerak dan sikapmu.
Semoga di saat banyak orang meninggalkan Sunda, engkau tumbuh menjadi putri Sunda yang membawa cahaya."
Sebagai penutup, Dedi melantunkan bait reflektif tentang jejak hidup dan karma manusia.
Ia percaya, hal-hal tersebut akan selalu tertinggal dalam setiap langkah kehidupan.
"Karma manusia takkan hilang jiwa meninggalkan raga.
Walau bayang terhapus musnah dikikis masa.
Karma manusia tetap tersirat jejak dan langkahnya.
Walau sampai di akhir hayat, pahala selalu kan terbawa," tutupnya dengan penuh makna.
FAQ (Tanya Jawab)
1. Bagaimana Dedi Mulyadi merayakan ulang tahun ke-55?
Dedi Mulyadi merayakan ulang tahunnya yang ke-55 dengan menyalakan 55 obor sebagai simbol cahaya kehidupan dan pengabdian, bukan dengan pesta konvensional.
2. Apa filosofi kepemimpinan yang diungkapkan Dedi Mulyadi?
Ia mengungkapkan filosofi kepemimpinan "Sunan Ambu", yang mencontohkan seorang ibu yang selalu mendahulukan anak-anaknya demi kesejahteraan mereka, relevan dengan tugas memimpin masyarakat.
3. Mengapa Dedi Mulyadi berjanji tidak akan menikah lagi?
Dedi Mulyadi berjanji tidak akan menikah lagi demi fokus memberikan perhatian penuh kepada putrinya, Ni Hyang Sukma Ayu, sebagai bentuk tanggung jawab atas kegagalan rumah tangga sebelumnya.
4. Apa makna pengalaman karma bagi Dedi Mulyadi?
Dua kali pengalaman kehilangan pasangan (kematian dan perceraian) diartikan sebagai jejak karma yang membentuk dirinya untuk terus tegak membesarkan anak dengan cinta dan menghindari kesalahan serupa.
5. Pesan apa yang disampaikan Dedi Mulyadi kepada putrinya?
Ia menyampaikan pesan penuh cinta kepada Ni Hyang Sukma Ayu, menyebutnya sebagai permata dan cahaya hidupnya, serta berharap agar sang putri tumbuh menjadi putri Sunda yang membawa cahaya.