Samsat Jabar Tiru Bank: Pelayanan Pajak Kendaraan Bakal Makin Mulus!

INFOPAJAJARAN.COM - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, memiliki harapan besar agar pelayanan di seluruh Unit Pelayanan Pendapatan Daerah (UPPD) atau Samsat se-Jawa Barat dapat meniru efektivitas dan efisiensi yang ditawarkan oleh lembaga perbankan.

Menurut Dedi Mulyadi, inovasi terkini dalam layanan Samsat sudah mulai menunjukkan hasil yang signifikan.

Hal ini terwujud melalui pelaksanaan surat edaran yang mempermudah masyarakat dalam melakukan pembayaran pajak kendaraan tahunan.

Kini, masyarakat tidak lagi diwajibkan untuk membawa Kartu Tanda Penduduk (KTP) milik pemilik pertama saat melakukan pembayaran.

Terobosan ini, yang didorong kuat oleh pihaknya, bertujuan agar masyarakat semakin mudah dalam memenuhi kewajiban mereka sebagai wajib pajak.

“Seluruh langkah ini merupakan upaya membangun kemudahan agar warga Jawa Barat mudah dalam membayar pajak kendaraan,” ujar Dedi Mulyadi.

Ia menambahkan, “Mereka itu mau bayar pajak.

Mau bayar pajak kenapa harus dibuat menjadi berbelit?

Semua harus dimudahkan,” tegasnya pada Kamis (9/8/2026).

Dedi Mulyadi menilai, tingkat kepatuhan wajib pajak dalam membayar pajak kendaraan sejatinya harus diimbangi dengan pelayanan yang super cepat dan efisien.

Ia mengungkapkan keprihatinan mendalam terkait masih banyaknya wajib pajak yang menunggak.

Saat ini, tercatat ada sekitar 5 juta wajib pajak yang belum memenuhi kewajibannya.

Dugaan kuatnya, penundaan pembayaran ini disebabkan oleh berbagai kendala dan birokrasi yang dinilai menghambat implementasi di lapangan oleh pemerintah.

“Pada akhirnya malas, logikanya kan sederhana.

Dengan numpuk sampai jutaan apa dampaknya orang tidak bayar pajak?

Orang tidak bayar Jasa Raharja?

Setelah itu apa problemnya terjadi kecelakaan mereka tanpa Jasa Raharja apa dampaknya balik lagi ke Pemprov tuh, berapa puluh miliar sih ngobatin orang kecelakaan tanpa jaminan Jasa Raharja?” papar beliau.

Beliau menekankan bahwa institusi pelayanan publik seperti Samsat seharusnya mencontoh kemudahan yang telah disajikan oleh sektor perbankan kepada para nasabahnya.

Nasabah begitu antusias menggunakan layanan perbankan karena kemudahannya, mulai dari urusan menarik tabungan hingga proses penggantian kartu ATM dan buku tabungan yang hilang, semuanya terasa tidak berbelit.

“Kita harus belajar dari perbankan, ke bank ngambil uang enggak usah bawa buku tabungan cukup bawa ATM.

Ganti ATM mudah, ganti buku tabungan mudah, transfer mudah, semuanya dimudahkan sehingga perbankan menjadi idola bagi warga Indonesia,” ujarnya penuh keyakinan.

Lebih lanjut, Dedi Mulyadi menambahkan, layanan perbankan yang memiliki standar keamanan tinggi pun terus berinovasi untuk memberikan kemudahan bagi nasabahnya dalam bertransaksi keuangan.

Hal ini, menurutnya, sangat mungkin untuk diadopsi dan diterapkan dalam layanan pemerintahan.

“Pemerintah ngurus [pajak] saja susah, orang bayar pajak itu dimudahin jangan dipersulit, ini harapan saya,” pungkasnya.

Beliau optimis bahwa dengan berbagai kemudahan yang sedang diupayakan oleh Samsat Jawa Barat, tingkat kepatuhan wajib pajak akan mengalami peningkatan yang signifikan.

“Kalau orang bayar pajaknya lancar, dia akan bayar pajak terus,” tutupnya.

FAQ: Seputar Kemudahan Layanan Samsat Jabar

1. Apa terobosan utama yang dilakukan Samsat Jabar berdasarkan harapan Gubernur?

Terobosan utamanya adalah mempermudah masyarakat dalam membayar pajak kendaraan tahunan, salah satunya dengan tidak mewajibkan membawa KTP pemilik pertama.

2. Mengapa Gubernur Dedi Mulyadi ingin Samsat meniru layanan perbankan?

Gubernur ingin Samsat meniru kemudahan dan efisiensi layanan perbankan agar masyarakat lebih antusias dan tidak merasa kesulitan saat membayar pajak, sehingga kepatuhan wajib pajak meningkat.

3. Apa dampak negatif dari banyaknya wajib pajak yang menunggak?

Banyaknya tunggakan pajak dapat berujung pada menurunnya kepatuhan masyarakat, tidak terdananya Jasa Raharja, dan potensi beban biaya pengobatan kecelakaan bagi Pemerintah Provinsi jika korban tidak memiliki jaminan.

4. Seberapa penting efisiensi layanan dalam meningkatkan kepatuhan membayar pajak?

Sangat penting, karena jika proses pembayaran pajak dibuat mudah dan cepat, masyarakat akan merasa lebih nyaman dan cenderung untuk membayar pajak secara rutin, yang pada akhirnya meningkatkan kepatuhan.

5. Contoh kemudahan apa yang bisa ditiru dari perbankan?

Contohnya seperti kemudahan transaksi hanya dengan ATM tanpa buku tabungan, proses penggantian kartu atau buku yang cepat, serta kemudahan transfer antar rekening, yang semuanya bertujuan untuk menyederhanakan urusan nasabah.